Our Story.
Share anything about our laboratorium

Masa Depan Artificial Intelligence



Manusia memiliki kecerdasan yang luar biasa sebagai anugerah dari Tuhan. Kecerdasan ini dimanfaatkan oleh manusia untuk mengembangkan teknologi. Salah satu teknologi yang berkembang adalah kecerdasan buatan (en: Artificial Intelligence ) atau yang biasa dikenal dengan AI. 

Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein kecerdasan buatan merupakan kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi dan fleksibel. Yang mana, sistem seperti itu umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin atau komputer agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan oleh manusia.
(Kaplan & Haenlein, 2019)

Pembahasan awal mula AI tak bisa lepas dari sosok John McCarthy sebagai ‘bapak AI’. Sejak masa kuliah, ia mulai mengembangkan ketertarikannya pada mesin yang dapat menirukan cara berpikir manusia. McCarthy kemudian mendirikan dua lembaga penelitian kecerdasan buatan. Kedua lembaga AI itu adalah Stanford Artificial Intelligence Laboratory dan MIT Artificial Inteligence Laboratory. Di lembaga-lembaga inilah bermunculan inovasi pengembangan AI yang meliputi bidang human skill, vision, listening, reasoning dan movement of limbs. Bahkan Salah satu lembaga yang didirikan itu, Stanford Artificial Intelligence pernah mendapat bantuan dana dari Pentagon untuk membuat teknologi-teknologi luar angkasa. (Yasha, 2018)

Manusia belajar dari pengalaman, contohnya saat mengerjakan soal perhitungan. Semakin sering kita mengerjakan soal dari yang mudah hingga yang sulit, maka akan semakin pandai. Cara AI belajar juga kurang lebih sama. Bedanya, jika manusia hanya dapat mempelajari satu objek dalam satu waktu, maka AI dapat mempelajari banyak hal dalam satu waktu. Artinya, AI dapat belajar ribuan kali lebih cepat dibanding manusia (Hapsah, 2019).

Berdasarkan kemampuan belajarnya, AI dibagi menjadi 3 tingkatan. Yaitu :
1.    Artificial Narrow Intelligence (Weak AI)
Weak AI atau disebut juga kecerdasan buatan lemah. Dikatakan lemah karena kemampuan belajarnya terbatas pada satu fungsi spesifik yang dirancang perancangnya. Dalam artian, AI tersebut tidak bisa berkembang secara mandiri selain sang perancang yang mengembangkannya.Weak AI banyak kita temui pada zaman sekarang ini, seperti Google Assistant, juga saran tontonan pada Youtube ataupun saran pada situs perbelanjaan online.

2.    Artificial General Intelligence (Strong AI)
Strong AI atau disebut juga kecerdasan buatan kuat, merupakan AI yang mampu belajar dan berpikir tepat seperti manusia. Strong AI mempunyai kemampuan belajar dan memperbaiki diri secara mandiri tanpa perintah dari perancangnya. Contohnya AlphaGo seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Permainan Go teknologi AlphaGo melawan Lee Sedol.

AlphaGo adalah program komputer yang dikembangkan oleh Google DeepMind di London untuk memainkan permainan papan Go. Cara kerja AlphaGo pada awalnya diberi lebih dari 100.000 pertandingan Go untuk dipelajari. Setelah AlphaGo belajar mandiri cara bermain Go, maka ia akan bermain melawan dirinya sendiri. Setiap kali ia kalah, ia akan meng-update cara dia bermain. Dan proses itu akan diulang jutaan kali. Pada akhirnya, AlphaGo dapat mengalahkan world champion pemain Go, Lee Sedol asal Korea Selatan.

3.        Super Intelligence
Super Intelligence merupakan kecerdasan buatan yang jauh lebih cerdas dibanding manusia. AI pada tingkatan ini memungkinkan memiliki fisik juga seperti manusia, seperti robot humanoid, yang pastinya dengan kecerdasan yang sangat tinggi. Saat ini, masih memerlukan banyak pengembangan teknologi untuk mencapai kecerdasan buatan pada tingkatan ini.
(HujanTandaTanya, 2017)

Pada tahun 2019 banyak trend AI yang ada di masyarakat, diantaranya :
AI asisten seperti Google Assistant, Siri, Apple, atau Alexa milik Amazon. Yang mana teknologi ini mendukung untuk menjadi asisten sang pengguna, pengguna hanya perlu memberi perintah dengan suara dan informasi juga akan diberikan melalui suara, sehingga pengguna tidak perlu membuka ponsel.Tidak hanya asisten, fitur pencarian pun telah dilengkapi AI, dengan cara kerja yang sama seperti AI AssistantPada perusahaan, digunakan AI untuk rekrutmen karyawan baru karena proses rekrutmen biasa memakan banyak waktu. Contohnya My Recruiting Assistant yaitu asisten perekrutan dengan chatbot yang memungkinkan komunikasi dengan kandidat melalui Skype, surat elektronik atau teks, sehingga dapat mempersingkat waktu dan tetap mendapat karyawan yang tepat. (Ermadi, 2018)

Menurut Stephen Hawking, seorang fisikawan teoritis asal Inggris, kecerdasan buatan memiliki sisi positif dan negatif. Pendapat yang sama juga diberikan oleh Sam Harris, begitu juga Bill Gates. AI pastinya akan sangat berguna di kehidupan mendatang dan akan lebih memudahkan pekerjaan manusia. Saat manusia membutuhkan waktu bertahun tahun dalam mencari solusi suatu permasalahan, AI bisa jadi hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Yang pastinya akan menghemat waktu dan tenaga dari manusia itu sendiri. (Yasha, 2018)



Tetapi, mungkinkah kecerdasan buatan itu melukai perancangnya, sang manusia? Bagaimana caranya kita mengendalikan sesuatu yang lebih cerdas dari kita?

Pertanyaan tersebut akan selalu muncul sampai teknologi tersebut diciptakan. Karena kecerdasan buatan akan selalu berkembang dan terus berkembang sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan bahkan oleh manusia itu sendiri.

Lantas, bagaimana cara kita mengembangkan sebuah kecerdasan buatan tanpa kehilangan kendali terhadap kecerdasan tersebut?



References :

Ermadi, A. A. (2018, December 12). Digination.id. Retrieved from Digination.ID: http://www.digination.id/read/013019/sst-ini-dia-tren-artificial-intelligence-tahun-2019
Hapsah, A. (Director). (2019). Robot Lebih Pintar Dari Manusia [Motion Picture].
HujanTandaTanya (Director). (2017). Kecerdasan Buatan [Motion Picture].
Kaplan, A., & Haenlein, M. (2019). Siri, Siri, in my hand: Who’s the fairest in the land? On the interpretations, illustrations, and implications of artificial intelligence. Business Horizons, 15-25.
Yasha. (2018, july 27). PT Dewaweb.id. Retrieved from Dewaweb.id: https://www.dewaweb.com/blog/kecerdasan-buatan/
labor eldi labor eldi Author

About



Welcome to the website of Digital Electronics Laboratory. The Laboratory is located in the Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Andalas University

Pageview

Followers